Judul : Analisis Tata Kelola Teknologi Informasi ( It Governance ) pada Bidang Akademik dengan Cobit Frame Work Studi Kasus pada Universitas Stikubank Semarang
Jurnal : Teknologi Informasi DINAMIK
Link jurnal : unisbank.ac.id/ojs/index.php/fti1/article/download/361/238
Volume dan halaman : volume 16 no 2, halaman 1 - 11
Tahun : 2011
Penulis : Agus Prasetyo Utomo dan Novita Mariana
Reviewer : Muhammad Dimas Ferdiansyah
ISSN : 0854-9524
Tujuan Penelitian
Menerapkan, merancang serta mengendalikan IT Governance pada UNISBANK, terutama yang berhubungan dengan layanan akademik, serta menghubungkan domain delivered (DS) dan monitor evaluate (ME) yang masing masing terdiri dari beberapam proses. lalu memetakan tingkat maturity proses TI lembaga saat ini sehingga dapat diukur posisi proses nya.
Manfaat Penelitian
manfaat yang di dapatkan nantinya diharapkan rekomendasi pengelolaan TI ini dapat dijadikan sebagai pertimbangan pihak manajemen TI bagaimanasebaiknya pengelolaan TI untuk mendukung kinerja layanan akademik yang dilakukan oleh BAAK terutama dalam pelayanan danmonitoring dari TI tersebut.
Metode Penilitian
Melakukan studi lapangan mengenai proses penggunaan TI yang sedang berjalan dan mengumpulkan dokumen mengenai visi, misi, strategi, tujuan, dan struktur lembaga UNISBANK. Serta Metode ini disusun menggunakan control process berdasarkan management guidelines COBIT (Control Objectives For Information And Related Technology) yang menyediakan referensi best business practice yang mencakup keseluruhan proses bisnis organisasi dan memaparkannya dalam struktur aktivitas aktivitas logis yang dapat dikelola dan dikendalikan secara efektif.
Hasil Dan Pembahasan
Pada jurnal ini Jumlah responden yang dipilih untuk pengisian kuesioner sebanyak 37 orang responden yaitu meliputi karyawan P2ICT dan karyawan BAAK, dosen dan mahasiswa UNISBANK tingkat akhir. Responden yang dipilih adalah merekayang mempunyai kemampuan untuk menilai penggunaan TI saat ini berkaitan dengan kegiatan layanan akademik UNISBANK.
Mendidik Dan Melatih User
Berdasarkan hasil fakta yang diperoleh dari kuesioner yang menggunakan model maturity, proses ini berada pada tingkat 4 (Diatur) , artinya:
Program pendidikan dan pelatihan SDM sudah dilakukan secara terpadu dengan hasil terukur.
Institusi menjadikan program pendidikan dan pelatihan sebagai salah satu hal pertimbangan dalam peningkatan jalur karir SDM.
Pengkajian ulang setiap penyelenggaraan pelatihan dan program pendidikan dilakukan secara terjadwal dan pembaharuan program pelatihan dan pendidikan selalu dilakukan
Mengelola Data
Pengelolaan data maupun pengelolaan arsip dan dokumen berkaitan dengan proses akademik menjadi tanggung jawab BAAK baik di tingkat universitas dan masingmasing Program Studi. Sedangkan pengelolaan data akademik secara online merupakan tanggung jawab P2ICT.
Monitor Dan Evaluasi
Berdasarkan model maturity, proses ini berada pada tingkat 3 (Ditetapkan) , artinya:
Sudah terdapat standarisasi prosesmonitoring yang dikomunikasikan ke seluruh unit kerja yang ada di Institusi
Program pendididkan dan pelatihan untuk monitoring diberikan untuk stafyang bertanggung jawab atas monitoring kinerja TI.
Pengukuran kontribusi fungsi layanan yang diberikan kinerja TI terhadap kinerja Institusi sudah didefinisikan sesuai dengan kriteria operasional
Rekomendasi IT Governance Lembaga
Untuk dapat mendukung pencapaian tujuan UNISBANK setidaknya tingkat maturitypengelolaan TI yang dilakukan minimal harus berada pada tingkat level 4 – diatur(managed) dimana proses di monitor dan diukur menggunakan indikator tertentu.
Kesimpulan
Dari hasil penelitian didapatkan bahwa Lembaga UNISBANK memiliki pengelolaan TI dalam mendukung layanan akademik dan dirasakan perlu dilakukan perbaikan terhadap beberapa control process yang dirasakan sangat penting menurut Lembaga yang terkait saat ini. Dalam pembuatan rekomendasi IT Governance dilakukan berdasarkan posisi maturity masingmasing control process tersebut. Untuk menentukan maturity tersebut menggunakan model maturity yang merupakan pemetaan yang menggambarkan kondisi control process tersebut pada saat ini dan dilakukan perbandingan antara keadaan saat ini dan hasil pemetaan.
Berdasarkan hasil review dari jurnal ini, penulis dari review ini (selaku pemilik dari blog) ingin menyampaikan komentar tentang keunggulan dan kekurangan yang didapat dari jurnal:
Keunggulan :
Dapat dilihat bahwa jurnal ini disampaikan dengan sangat detail mengenai permasalahan serta solusi yang dijelaskan. struktur serta kerangka jurnal yang lengkap menjadikan jurnal ini memiliki data- yang dipaparkan secara lengkap, metode penilitian nya pun berdasarkan analisis data hasil kuesioner.
Kekurangan :
Penjelasan setiap bab nya menggunakan kalimat yang sangat panjang dan berulang-ulang, sehingga pembaca sulit untuk memahami isi dari jurnal tersebut.
SLA singkatan dari Service Level Agreement atau jika diterjemahkan adalah, Perjanjian Tingkat Layanan , Pengertian SLA adalah bagian dari perjanjian layanan secara keseluruhan antara 2 dua entitas untuk peningkatan kinerja atau waktu pengiriman harus di perbaiki selama masa kontrak. Dua entitas tersebut biasanya dikenal sebagai penyedia layanan dan klien, dan dapat melibatkan perjanjian secara hukum karena melibatkan uang, atau kontrak lebih informal antara unit-unit bisnis internal. SLA ini biasanya terdiri dari beberapa bagian yang mendefinisikan tanggung jawab berbagai pihak, dimana layanan tersebut bekerja dan memberikan garansi, dimana jaminan tersebut bagian dari SLA memilikitingkat harapan yang disepakati, tetapi dalam SLA mungkin terdapat tingkat ketersediaan, kemudahan layanan, kinerja, operasi atau tingkat spesifikasi untuk layanan itu sendiri. Selain itu, Perjanjian Tingkat Layanan akan menentukan target yang ideal, serta minimum yang dapat diterima.
SLA Sebagai Layanan Aplikasi Bisnis
Dengan mengetahui hal itu, diharapkan tingkat pelayanan dan juga tingkat minimum, pelanggan dapat menggunakan layanan dengan maksimal. Hal ini juga sangat membantu jika klien adalah perantara, yang menjual kembali atau bundling dengan pelayanan yang lebih besar yang sedang dijual. SLA telah digunakan sejak awal 1980-an oleh perusahaan telepon dengan pelanggan dan reseller yang lebih besar perusahaannya dengan pelayanan mereka. Konsep “tertangkap” dari bisnis unit dan usaha lainnya dalam perusahaan besar mulai menggunakan istilah dan pengaturan yang ideal dalam awal kontrak layanan telekomunikasi. Ide menciptakan sebuah layanan yang lebih besar dari layanan yang lebih kecil hampir membutuhkan SLA dari penyedia jasa. Misalnya, untuk memiliki cakupan ponsel nasional, Anda tidak perlu untuk membangun menara dan antena di seluruh kota. Sebaliknya, Anda bisa menemukan perusahaan lokal dan daerah yang menawarkan layanan yang sama, menulis tentang SLA dan mengukur hasilnya. Untuk pelanggan anda, anda akan menawarkan SLA yang sama. Dalam SLA asli tidak memerlukan perusahaan dari mana anda membeli, dan anda dapat mengontrol biaya anda, ketika pelanggan mematuhi SLA yang anda buat dengan mereka. Hal ini memberikan kemampuan bagi Perusahaan untuk menggunakan banyak sub kontraktor untuk menyediakan pelayanan yang lebih besar, namun mengendalikan biaya dan sumber daya untuk menawarkan produk yang lebih besar.
Mengapa SLA dibutuhkan
SLA dibutuhkan jika dilihat dari sisi Penyedia layanan adalah sebagai jaminan atas service yang diberikan kepada klien, sehingga klien tersebut bisa puas atas layanan yang diberikan, dampak lain yang akan muncul dari sisi penyedia layanana adalah konsep pemasaran tradisional yaitu pemasaran dari mulut ke mulut , maksudnya adalah klien akan memberikan rekomendasi kepada temannya/ rekan lainnya bahwa layanan yang diberikan oleh penyedia tersebut bagus, sehingga berharap teman/ rekan lainnya mau berlangganan kepada provider/ penyedia layanan tersebut. Dari sisi Klien adalah menjamin aspek ketersedian (availability) informasi(kalau kita mengacu kepada konsep informasi yang berkualias, adalah mengacu kepada availability, accurate, Update). Sehingga pihak klien merasa terbantu dengan ketersediaan layanan yang diberikan oleh pihak provider, sehingga proses pengelolaan data/ informasi dengan pihak-pihak terkait (customer/ vendor) berjalan lancar & tidak terganggu karena layanan itu mati, bisa dibayangkan jika klien tersebut adalah sebuah institusi perbankan (dimana layanan yang dibutuhkan adalah 24 jam , dengan kata lain layanan internet nya tidak boleh down (mati), dan bisa dibayangkan juga jika layanan dari perbankan itu down (mati), akibatnya dari aspek pemasaran nasabahnya dari bank tersebut tidak akan percaya , sehingga dampak yang paling tragis adalah nasabah tersebut akan berpindah kepada layanan dari bank lain ?, begitupula layanan-layanan lainnya seperti Perguruan tinggi, yang nantinya akan berdampak kepada image yang kurang baik dari perguruan tinggi tersebut.
Definisi OLA
operational-level agreement (OLA) mendefinisikan hubungan saling tergantung dalam mendukung Service-level agreement (SLA). Kesepakatan tersebut menggambarkan tanggung jawab masing-masing kelompok pendukung internal terhadap kelompok pendukung lainnya, termasuk proses dan kerangka waktu untuk penyampaian layanan mereka. Tujuan OLA adalah untuk menyajikan deskripsi dukungan internal dari penyedia layanan yang jelas, ringkas dan terukur. OLA kadang diperluas ke frase lain tapi semuanya memiliki arti yang sama:
organisational-level agreement
operating-level agreement
operations-level agreement
Perbedaan SLA dan OLA
Service Level Agreement berfokus pada bagian layanan dari perjanjian, seperti uptime layanan dan kinerja. Di sisi lain, Perjanjian Tingkat Operasional adalah kesepakatan sehubungan dengan pemeliharaan dan layanan lainnya.
Service Level Agreement pada dasarnya adalah kontrak antara penyedia layanan dan pelanggan. OLA adalah kesepakatan antara kelompok pendukung internal sebuah institusi yang mendukung SLA.
Saat membandingkan kelompok sasaran, OLA memiliki kelompok sasaran lebih kecil daripada SLA.
Berbeda dengan OLA, SLA menghubungkan penyedia layanan ke pelanggan.
Perjanjian Tingkat Operasional lebih bersifat teknis daripada Service Level Agreement.
Contoh Kasus
Cara menghitung SLA, tergantung dari layanan yang diberikan , sebagai contoh yang saya ketahui beberapa provider IT khususnya provider / penyedia layanan internet memberikan SLA antara 96% – 99%, artinya dalam 1 bulan pihak provider menjamin bahwa layanan yang diberikan adalah :
Menghitung SLA (asumsi dengan SLA 98%, artinya layanan standard mereka 98% dalam 1 bulan, dan 2% dianggap wajar jika terjadi mati (down) dalam layanan tersebut)
1 hari = 24 jam
1 bulan = 30 hari
Biaya bulanan Internet = Rp. 1.000.000
==> 1 bulan = 30 hari x 24 jam = 720 Jam (720 jam merupakan layanan 100%)
==> Sedangkan jika 98% maka layanan standard mereka adalah
==> 98% * 720 jam = 705.6 jam (layanan standard mereka, sisanya 14.4 jam dianggap wajar jika layanan itu mati (down)
Pengertian Restitusi dan Bagaimana menghitung Restitusi
Restitusi adalah pengembalian dalam bentuk (bisa dalam bentuk pembayaran (uang), ataupun lainnya (tergantung kontrak) dari pihak penyedia layanan kepada klien.
Sebagai contoh (dengan mengambil lanjutan perhitungan diatas), jika klien mempunyai kewajiban membayar Rp. 1.000.000 :
Biaya bulanan internet = Rp. 1.000.000
SLA layanan (contoh bulan Juli) = 76,6% (100% – 23,3%), artinya pihak provider bulan juli hanya bisa memberikan layanan internet sebesar 76,6% artinya ada selisih (98% – 76.6% = 21.3%, yang tidak bisa dipenuh oleh pihak provider)
Nah 21,3 % itu adalah hak kita u/ mendapatkan penggantian, penggantian ini biasanya dlm bentuk pengurangan pembayaran, misalkan kita bayar
1bulan Rp. 1.000.000 = untuk layanan 98% (1% sekitar Rp. 10.204)
Maka u/ layanan hanya 76.6% = 1.000.000 – (21.3% X Rp. 10.204)
= Rp1.000.000 – Rp. 217.345
= Rp. 782.654
Kesimpulan
Dengan adanya solusi kasus yang di atas, maka pelanggan dapat memahami hak layanan yang harus diterima, dan sebagai kewajiban yang harus dipenuhi tingkat layanan yang telah disepakati. Terkadang jumlah pengembalian yang diberikan tidak sebanding dengan kerugian pelanggan dari matinya internet, oleh karena itu pihak provider diharapkan dapat memenuhi setidaknya dari jumlah SLA yang dijanjikan.
COBIT 5 (Control Objectives for
Information and Related Technology 5)
COBIT 5 adalah kerangka bisnis
untuk tata kelola dan manajemen perusahaan IT (IT goverrnance framework), dan
juga kumpulan alat yang mendukung para manager untuk menjembatani jarak (gap)
antara kebutuhan yang dikendalikan (control requirments), masalah teknis
(technical issues) dan resiko bisnis (business risk). COBIT mempermudah
perkembangan peraturan yang jelas (clear policy development) dan praktik baik
(good practice) untuk mengendalikan IT dalam organisasi. COBIT menekankan
kepatuhan terhadap peraturan, membantu organisasi untuk meningkatkan nilai yang
ingin dicapai dengan penggunaan IT, memungkinkan untuk menyelaraskan dan
menyederhanakan penerapan dari the COBIT framework.
ITIL (The IT
Infastructure Library)
ITIL adalah best practice
famework yang mampu meningkatkan layanan atau computing service didalam sektor
Teknologi Informasi. ITIL memberikan sekumpulan prosedur board of management,
yang diterapkan kepada seluruh aspek dari infrastuktur Teknologi Informasi,
yang memampukan organisasi untuk dapat mengelola operasional teknologi
informasinya.
ISO/IEC 27002 (International
Organization for Standardization (ISO) / International Electrotechnical
Commission(IEC))
ISO/IEC 27002 merupakan sebuah
seri penduan dan prinsip-prinsip yang berfungsi untuk menginisiasi,
implementasi, pemeliharaan dan meningkatkan kinerja manajemen teknologi
informasi dalam sebuah organisasi IT. ISO/IEC 27002 merupakan standar yang
diakui secara internasional karena memiliki cara yang baik di bidang kemanan
(Security). Standar-standar dari ISO/IEC 27002 telah diakui dan diterima secara
global sehingga ini merupakan best practice Perguruan Tinggi dalam bidang keamanan
untuk berbagai macam sektor.
Kombinasi Antara COBIT, ITIL dan
ISO/IEC 27002
Perbedaan mendasar yang terdapat
pada metodelogi ITIL adalah bagaimana proses-proses dijelaskan dan ditangani
pada setiap aktifitas dan flowchart yang berbeda yang nantinya diharapkan akan
memberikan sebuah arahan untuk organisasi dalam penggunaan IT dengan efektif
dan efisien. Namun, dari sisi Critical Success Factor, Cobit menjelaskan dengan
lebih detail dan lebih tepat sasaran.
COBIT memiliki strukur
yang lebih baik dalam hal mengalamatkan masalah-masalah yang berkaitan dengan
IT Auditing, dalam hal IT Auditing pada COBIT mencakup area yang lebih luas
dan lebih cocok digunakan untuk menilai
dan mengevaluasi sebuah IT Governance.
Fitur-fitur yang dimiliki COBIT dalam
penanganan terhadap masalah yang berkaitan dengan manajemen adalah COBIT
mampu mereferensikan Critical Success Factor yang dibarengi dengan indikator
kinerja dan model kapabilitas sebuah IT Governance. (Simonsson dan Johnson,
2008) berargumen bahwa ITIL tidak mendukung minat dalam IT (Strategic Interest
of IT). Dalam hal ini COBIT diakui memiliki struktur IT Goverance yang lebih
baik.
ISO/IEC 27002 standar
banyak digunakan untuk mengatasi masalah yang berkaitan dengan keamanan
informasi dan tidak hanya masalah yang terkait dengan manajemen TI. Dengan
tujuan umum, jelas bahwa standar ISO/ IEC 27002 tidak sesuai dengan yang setara
dengan metodologi ITIL seperti yang kita dapat membandingkan metodologi ITIL
dengan metodologi COBIT.
Dapat dilihat dalam melakukan
komparasi antara COBIT dan ITIL, keduanya memiliki kesamaan dalam model dan
terstruktur dalam kesamaan yang tinggi di bidang IT management, terlebih lagi
COBIT menggunakan metodelogi ITIL dalam merombak strukturnya di versi yang
terbaru. Ada beberapa masalah yang ditujukan oleh metodelogi ini dan terdapat
sedikit perbedaan konotasi yang dapat dilihat dalam tabel berikut :
ITIL
COBIT
Incident Management
Administrate the problems and incidents
Problem Management
Administrate the problems and incidents
Configuration Management
Administrate and Configure
Change Management
Administrate Change
IT Services Financial Management
Identify and carry out
Apropriation Costs
Capacity Management
Administrate
Performance and Capacity
Continuity of Service Management
Ensure Continuity of Services
Avalaibility
Management
Administrate
Performance and Capacity
Version Management
Administrate Change and Configuration
Service Level Management
Define and Manage Service Level
Metodelogi ITIL memiliki
perbedaaan pada strukturnya, dapat dilihat sebagai contoh dalam penanganan
Incident Management bahwa ITIL memiliki pendekatan yang lebih spesifik dan
tidak memiliki bagian yang ekuivalen di dalam kerangka kerja COBIT. Namun,
walaupun tidak adannya bagian yang ekuivalen, metodelogi COBIT tidak
mengalamatkan masalah ini ke bagian lain dalam strukturnya atau COBIT melakukan
pendekatan berbeda. ITIL menangani masalah ini dengan cara yang sangat detail
pada level pemeliharaan jasa dan level operating agreements.
ITIL dan COBIT dalam Relasinya
dengan ISO/IEC 27002
menyoroti bahwa pelaksanaan
keamanan dan kontrol dari standar ISO/IEC 27002 dikombinasikan dengan ITIL atau
COBIT mengurangi ancaman kritis yang dapat mengganggu hasil proyek. ISO/IEC
27002 memiliki struktur utamanya untuk diterapkan berdasarkan suatu organisasi
dan menjamin keseluruhan keselamatan di semua tingkat keamanan informasi dari
suatu organisasi. Masalah administrasi dan manajemen ditangani oleh ITIL dan
COBIT metodologi tidak memiliki struktur setara dibahas dalam ISO/IEC 27002
standar. ketersediaan informasi ditangani dalam ITIL dan COBIT dengan aspek
kualitas, keandalan dan pemeliharaan IT menekankan bahwa ISO/IEC 27002
bersama-sama dengan ITIL dapat membantu penciptaan proses yang berkaitan dengan
pengiriman dan dukungan dari IT.
Tabel. Usulan Metodologi
Kombinasi
ITIL
COBIT
ISO/IEC 27002
Konsep / Proses
Critical
SuccessFactors (CSF)
Information Security
Aktivitas
Metrik(CSF/KPI)
Biaya /
Keuntungan
Good Practice
(CMM)
Perencanaan dan Eksekusi
Audit
Berdasarkan karakteristik dari
masing-masing metodologi ini, kekuatan dan kelemahan mereka struktur dievaluasi
capat disimpulkan bahwa penggunaan kombinasi metodologi ITIL, COBIT dan ISO/IEC
27002 harus dilaksanakan seperti yang ditunjukkan pada Tabel tersebut. Tabel ini dibangun dengan membandingkan tujuan pengendalian yang sama antara metodologi
ITIL, COBIT dan ISO/IEC 27002. Sebagai hasil dari pekerjaan ini saran yang
diajukan adalah bahwa metodologi ITIL harus digunakan untuk mendefinisikan
strategi, konsep dan proses yang terkait dengan manajemen TI. COBIT harus
digunakan untuk mengevaluasi kritis Keberhasilan faktor, metrik, indikator dan
audit. Selain itu, standar ISO/IEC 27002 harus memandu pengelolaan TI dalam
kaitannya dengan masalah keamanan IT
Laporan ini dipublikasikan sebagai bagian dari
Linkage Project ARC “Memfasilitasi Bisnis Proses Standarisasi dan Reuse”oleh
QUT Proses Bisnis Manajemen Grup dan Suncorp. Tujuan dari laporan penelitian
yang pertama dan utama untuk mendapatkan wawasan awal ke Proses penggunaan
pemodelan di Suncorp. Untuk itu, Project Report No 1 khusus meneliti
bagaimana sampel karyawan Suncorp ini membuat penggunaan model proses di hari-hari
kerja mereka dan menilai dampak dari pemodelan proses bisnis. Sebuah survei
itu dirancang dan digunakan untuk mewawancarai staf Suncorp melakukan pemodelan
proses dan berinteraksi dengan model proses. The Suncorp Group of companies
menawarkan berbagai produk dan layanan keuangan di Perbankan, asuransi umum,
asuransi jiwa, superannuation dan produk investasi Australia dan Selandia
Baru. Ini adalah bisnis terberat 25 besar ASX dengan nilai lebih dari $ 93
miliar Aset, memiliki sekitar 16.000 karyawan dan hubungan dengan lebih dari
sembilan juta pelanggan.
BAB 1 PENDAHULUAN
Salah satu konsep penting
Manajemen Proses Bisnis adalah memvisualisasikan yang ada atau Operasi
organisasi masa depan dengan menggunakan model proses bisnis. Proses bisnis
Pemodelan merupakan pendekatan grafis yang merepresentasikan aktivitas bisnis,
kejadian, flow control, Stakeholder, dan hubungan semuanya adalah instrumen penting
untuk mendokumentasikan Operasi bisnis, memfasilitasi komunikasi antara
pemangku kepentingan yang relevan dan Otomatisasi serta tujuan pelaksanaan.
Selain itu, proses model memungkinkan proses Mengubah keputusan untuk mengatasi
masalah biaya, kepatuhan dan efisiensi. Selama bertahun-tahun, pemodelan proses
bisnis telah dianggap sebagai praktik penting Dapat menambahkan nilai
signifikan pada organisasi. Namun, hal itu juga membutuhkan substansial
Investasi, misalnya dalam bentuk pelatihan, perkakas - dan tentu saja pemodelan
itu sendiri. Ini menjelaskan bahwa karyawan merupakan faktor kunci keberhasilan
pemodelan proses apapun prakarsa. Jika pemodelan proses pengetahuan bekerja,
organisasi pun jauh lebih banyak Kemungkinan akan kehilangan manfaat potensial.
Suncorp, salah satu dari 25 perusahaan terdaftar di Australia dan daftar
terbesar di Queensland Korporasi, menyediakan berbagai produk perbankan dan
asuransi langsung kepada nasabah Melalui jaringan cabang dan agensi yang luas,
operasi call center, fasilitas on-line,Dan melalui perantara dan mitra
perusahaan. Selama bertahun-tahun, ia telah berinvestasi Waktu dan usaha untuk
menciptakan dan memelihara ribuan model proses.
BAB 2 RINGKASAN JURNAL
2.1 Business Process Modelling
(Permodelan Proses Bisnis)
Tinjauan terakhir dari penelitian
tentang pemodelan proses menunjukkan bahwa hanya sedikit saja Jumlah penelitian
telah membahas penggunaan pemodelan proses dalam praktik sebenarnya. Selain
itu, sebagian besar penelitian Sistem Informasi berfokus pada perspektif Notasi
pemodelan proses bisnis dan alatnya dalam berbagai kegunaan, pemodelan proses
Pedoman praktis, faktor penentu keberhasilan pemodelan proses, evaluasi proses
Pendekatan pemodelan dan tantangan pemodelan. Dalam konteks ini, Eikebrokk dkk.
(2011) Telah mengidentifikasi tiga aliran riset pemodelan proses. penulis
meneliti Pengguna pemodelan proses dan juga melaporkan efektivitas pemodelan
proses. Kedua Kelompok melaporkan studi pemodelan proses di perusahaan, dan
kelompok ketiga fokus Tentang pengembangan teori pemodelan proses berbasis
empiris dari bawah ke atas. Selanjutnya, Bandara dkk berpendapat bahwa
kebanyakan pemodelan pemodelan terbitan Telah mengilustrasikan penggunaan alat
tertentu atau aplikasi pemodelan bahasa yang dijelaskan.
2.2 Business Process Model Use
(Kegunaan Model Proses Bisnis)
Data menunjukkan kesepakatan umum
antara staf yang disurvei, Bisnis proses pemodelan dapat berguna dan bermanfaat
untuk pekerjaan sehari-hari mereka. Tapi sejauh ini apakah karyawan terlibat
menggunakan model proses bisnis di tempat kerja mereka? Menurut Recker, setiap
kali pengguna percaya akan kegunaan teknik pemodelan, atau menemukan bahwa itu
memainkan peran yang bermanfaat dalam mendukung pekerjaan mereka, mereka akan
terus mendukung teknik pemodelan. Namun, hasil menunjukkan bahwa penggunaan
model proses tampaknya menjadi agak rendah dan dengan demikian kurang dari apa
yang seharusnya dalam hal positif para peserta pendapat tentang kegunaan dan
manfaat yang dirasakan pemodelan proses bisnis.
Masalah lain mengenai penggunaan
model proses yaitu seperti:
Kurangnya pengetahuan tentang
model proses bisnis;
kurangnya penerapan model proses
bisnis untuk aturan pekerjaan tersebut; dan
pemeliharaan proses bisnis,
berarti sebagai salah satu peserta yang menyatakan:
penulis berkata "Saya hanya
menulis (proses model) untuk proyek-proyek dan saya tidak percaya mereka
meninjau secara teratur karena proses berubah begitu sering. "
BAB 3 KESIMPULAN
Penelitian menunjukkan bahwa
proses pemodelan memang sangat penting untuk organisasi. Proses pemodelan
membantu organisasi dalam memperoleh manfaat melalui proses dokumentasi,
komunikasi, pelaksanaan, dan otomatisasi, antara lain. Mayoritas penelitian
belajar perspektif pengguna akhir telah difokuskan pada pedoman untuk
menggunakan tertentu pemodelan alat, metode, kerangka kerja, dan meneliti
pengaruh orang-orang yang berhubungan dengan modellers' perilaku, keputusan
atau pemodelan tata bahasa. Laporan ini mempelajari interaksi staf dengan model
proses di Suncorp. Hal ini juga terungkap karyawan terlibat perdebatan tentang
nilai dan manfaat dari proses pemodelan. Studi menunjukkan konsensus di antara
semua peserta tentang menolong proses pemodelan di tempat kerja. Manfaat utama
diidentifikasi proses pemodelan yang proses pemahaman, perbaikan proses, proses
komunikasi dan proses analisis. Laporan ini selanjutnya dibahas kerja proses
model dalam operasi sehari-hari ini dan menemukan bukti karena kurangnya
penggunaan model proses.
Sumber : http://apromore.org/wp-content/uploads/2011/11/Suncorp-project-report-1.pdf
Perkembangan teknologi computer (informasi) yang begitu pesat telah merambah ke berbagai sektor termasuk kesehatan. Meskipun dunia kesehatan (dan medis) merupakan bidang yang bersifat information-intensive, akan tetapi adopsi teknologi komputer relatif tertinggal. Sebagai contoh, ketika transaksi finansial secara elektronik sudah menjadi salah satu prosedur standar dalam dunia perbankan, sebagian besar rumah sakit di Indonesia baru dalam tahap perencanaan pengembangan billing system. Meskipun rumah sakit dikenal sebagai organisasi yang padat modal-padat karya, tetapi investasi teknologi informasi masih merupakan bagian kecil. Di AS, negara yang relatif maju baik dari sisi anggaran kesehatan maupun teknologi informasi komputer, rumah sakit rata-rata hanya menginvestasinya 2% untuk teknologi informasi. Di sisi yang lain, masyarakat menyadari bahwa teknologi komputer merupakan salah satu tool penting dalam peradaban manusia untuk mengatasi (sebagian) masalah derasnya arus informasi. Teknologi informasi dan komunikasi komputer saat ini adalah bagian penting dalam manajemen informasi. Di dunia medis, dengan perkembangan pengetahuan yang begitu cepat (kurang lebih 750.000 artikel terbaru di jurnal kedokteran dipublikasikan tiap tahun), dokter akan cepat tertinggal jika tidak memanfaatkan berbagai tool untuk mengudapte perkembangan terbaru. Selain memiliki potensi dalam memfilter data dan mengolah menjadi informasi, TI mampu menyimpannya dengan jumlah kapasitas jauh lebih banyak dari cara-cara manual. Konvergensi dengan teknologi komunikasi juga memungkinkan data kesehatan di-share secara mudah dan cepat. Disamping itu, teknologi memiliki karakteristik perkembangan yang sangat cepat. Setiap dua tahun, akan muncul produk baru dengan kemampuan pengolahan yang dua kali lebih cepat dan kapasitas penyimpanan dua kali lebih besar serta berbagai aplikasi inovatif terbaru.
Pelayanan kesehatan berbasis
teknologi informasi dan komunikasi (TIK) komputer, atau yang biasa disebut
sebagai e-Health, tengah mendapat banyak perhatian dunia. Terutama disebabkan
oleh janji dan peluang bahwa teknologi mampu meningkatkan kualitas kehidupan
manusia. Tulisan ini mencoba mengulas bagaimana sebenarnya e-Health tersebut
dan bagaimana implikasi teknologi dalam meningkatkan pelayanan kesehatan.Dengan
berbagai potensinya ini, adalah naif apabila manajemen informasi kesehatan di
rumah sakit tidak memberikan perhatian istimewa. Perkembangan teknologi
informasi ini untuk mendukung manajemen rekam medis secara lebih efektif dan
efisien. Walaupun status kesehatan Indonesia belum terpengaruh secara drastis
dalam jangka pendek, krisis yang ekonomi telah berkepanjangan membuat
perkembangan sistem kesehatan semakin lambat. Namun demikian, walau sudah
dicapai banyak kemajuan, tetapi bila dibandingkan beberapa negara tetangga
keadaan kesehatan masyarakat Indonesia masih tertinggal jauh.
2. Pengertian Sistem E-Helath
E-Health merupakan istilah baru
pelayanan kesehatan yang digunakan untuk menggambarkan penggunaan gabungan
komunikasi elektronik dan teknologi informasi dalam sektor kesehatan, dimana
digital data ditransmisikan, disimpan dan diambil secara elektronik untuk
kepentingan klinis, pendidikan dan administrasi. Dalam pengertian lebih luas,
e-Health dapat diartikan sebagai tidak hanya pengembangan teknologi pelayanan
kesehatan, namun juga mencakup pengembangan sikap, perilaku, komitmen, dan tata
cara berpikir untuk mengembangkan pelayanan kesehatan dengan menggunakan
teknologi informasi dan komunikasi. Mengapa e-Health perlu dilaksanakan? Di
seluruh dunia, terjadi peningkatan biaya pelayanan kesehatan. Banyak orang
tidak mendapat kesempatan bagi pelayanan kesehatan yang lebih baik. Catatan
kesehatan yang masih mengandalkan dokumen kertas banyak menimbulkan kesalahan
dan mengurangi produktivitas layanan. E-Health akan memberikan kesempatan
kepada semua pihak untuk melakukan kolaborasi, pengumpulan dan analisa data
kesehatan yang melampaui batasan fisik dan waktu. Sebagai contoh, e-Health
dapat diterapkan untuk membantu pemerintah mengembangkan program yang membantu
dokter, perawat, dan tenaga kesehatan lainnya saling bertukar infomasi secara
elektronik, mengambil data rekam medis pasien kapan dan dimana diperlukan, dan
melakukan kolaborasi dengan memberi layanan jasa kesehatan lainnya secara real
time melalui internet. Layanan kesehatan seperti ini akan memberikan banyak
sekali penghematan dari sisi biaya dokumen dan administrasi layanan dan
memberikan keuntungan pemberian keputusan layanan kesehatan yang terbaik kepada
pasien dengan lebih cepat. 3. Diagram Sistem E-Health
Secara sederhana sistem E-Health
terdiri atas sejumlah “Stasiun Medis” yang satu sama lain dihubungkan dalam
suatu jaringan (Network).
-Jaringan dan perangkat telekomunikasi yang tersedia.
Pada dasarnya setiap stasiun
medis dapat berhubungan dengan stasiun medis lainnya secara:
-Real-time (secara sinkron), contohnya saat telekonsultasi antara dokter umum dan dokter spesialis mengenai kasus darurat seorang pasien.
-Store and forward, pengiriman informasi dan pembacaannya tidak pada saat yang sama, contohnya dalam penyampaian singkat jumlah rekapitulasi jumlah pasien di suatu puskesmas selama sebulan beserta informasi penting secara singkat.
4. Manfaat Sistem E-Health
Sistem E-Health ini begitu
bermanfaat bagi dunia kesehatan dan kedokteran saat ini, dikarenakan untuk
mengimbangi tingginya aktivitas dan penyampaian informasi secara detail dan
cepat memang memerlukan penerapan suatu teknologi berbasis komputerisasi,
berikut manfaat lain dari penerapan sistem E-Health dalam dunia kedokteran :
-Peningkatan efisiensi atau penurunan biaya.
-Peningkatan kualitas pelayanan kesehatan.
-Pembuktian diagnose melalui evaluasi ilmiah
-Pemberdayaan pasien dan konsumen
-Mendorong terjadinya hubungan yang lebih baik antara pasien dan tenaga kesehatan
-Pendidikan bagi tenaga kesehatan dan masyarakat
5. Contoh Penerapan E-Health
-Sistem Resep Elektronik
Merupakan sistem komputerisasi
penulisan resep obat yang juga dikenal dengan E-Prescription, dimana pada
sistem ini dokter menuliskan dan mengirimkan resep kepada bagian farmasi/apotek
menggunakan media elektronik menggantikan tulisan tangan dan penggunaan media
kertas. Sistem ini dibuat untuk
menghindari terjadinya ROM (Reaksi Obat Merugikan) yang biasa disebabkan oleh
adanya kesalahan pemakaian obat selama dalam penanganan tenaga kesehatan, yang
sebenarnya hal ini dapat dicegah apabila dilakukan dengan lebih teliti dan
hati-hati.
-Cara Kerja Sistem Elektronik
Resep elektronik ini terdiri atas
perangkat keras dan perangkat lunak, perangkat keras yang digunakan adalah
computer dan perangkat lunak yang digunakan adalah perangkat lunak resep
elektronik dengan modul pendeteksi ROM (Reaksi Obat Merugikan).Satu computer
digunakan sebagai server (pusat data). Server tersebut dihubungkan dengan
computer-komputer lainnya menggunakan hub pada LAN (Local Area Network).
Perangkat lunak hanya di instalasi di computer server saja dan sistem ini dapat
digunakan pada satu, dua atau banyak computer.
Perangkat lunak pada sistem resep
elektronik pendeteksi ROM ini secara sederhana mempunyai fungsi sebagai berikut
:
1. Mencatat semua data pasien yang dapat dengan mudah dicari kembali
2. Menulis resep elektronik tanpa kertas dan dapat langsung dikirim ke apotek, sehingga pasien dapat langsung pergi ke apotek untuk ambil obat.
3. Membantu bapak ibu dokter dalam menulis resep dengan memberikan informasi mengenai obat yang akan diresepkan dan mendeteksi apabila ada interaksi antara obat-obata tersebut dalam resep dengan memberi peringatan sebelum obat dikirimkan ke apotek.
4. Mencatat data penggunaan obat
5. Membuat laporan dengan lebih cepat dan mudah
Dengan adanya sistem seperti ini
sebenarnya akan sangat memudahkan seorang dokter dalam bekerja dan menghindari
terjadinya kesalahan dalam pemberian suatu resep yang dapat menimbulkan
kerugian pada pasien, sehingga dapat meningkatkan mutu dan kualitas pelayanan
kesehatan.
6. Bioinformatika
Informatika kedokteran Biomedis
bisa disebut juga Bioinformatika Kedokteran. Penggunaan open source development
tools sangat diperlukan untuk mengembangkan aplikasi Bioinformatika kedokteran
yang low cost dan dapat dipergunakan oleh banyak user. Bioinformatika adalah
ilmu gabungan antara Biologi Molekular dan IT. Contoh aplikasi dari Bioinformatika
akan dijabarkan di bawah. Bionformatika merupakan penggunaan IT untuk
menyelesaikan permasalahan yang berhubungan dengan Biologi Molekular. Sepanjang
sejarahnya, eksperimen biologi molekular telah mengumpulkan banyak sekali data
ekspresi genetis. Dalam konteks kedokteran, data-data tersebut diambil dari
sampel pasien. Data dalam jumlah banyak tersebut, perlu diolah menjadi
informasi yang berguna. Bioinformatika bertugas untuk mengolah data-data
genetis tersebut, menjadi informasi yang berguna secara kedokteran, misalnya
untuk keperluan diagnostik dan terapi terhadap penyakit. Salah satu aplikasi konkrit dari
bioinformatika adalah desain primer untuk mendeteksi keberadaan mikroba
patogen, desain primer untuk mendeteksi kelainan genetis (uji genetis) dan
desain vaksin untuk mencegah berbagai penyakit. Software yang digunakan pada
umumnya bersifat open source, seperti Bioedit, Clustal, Deep-View, Pymol, dan
Treeview32.
Di Amerika Serikat, uji genetis
mulai menjadi populer. Dalam beberapa kasus ekstrim, jika seorang pasien
didiagnosa akan menderita kanker payudara dalam beberapa tahun ke depan, maka
sang pasien akan menyetujui tindakan medis untuk mengangkat payudara. Ini
sebagai tindakan preventif sebelum kanker terjadi. Uji genetis juga dapat
digunakan untuk mendeteksi penyakit keturunan lainnya, seperti sindrom down,
huntington, atau sicke cell. Prinsip Uji
genetis adalah mengkawinkan ilmu biosensor dan bioinformatika. Bioinformatika
bertugas untuk mencari kelainan genetis pada sekuens DNA atau protein yang umum
ditemui pada pasien atau conserve region.
Dalam hal ini, software yang
digunakan pada umumnya adalah Bioedit dan Clustal. Jika pola\/pattern sudah
ditemukan, maka pola tersebut akan dijadikan template untuk membentuk sistim
biosensor genetis. Proses pencarian pola dimulai dengan penjajaran sekuens DNA
pada editor teks, kemudian proses multiple sequence alignment di Clustal, dan
pencarian conserve region di Bioedit. Semua dilakukan dengan aplikasi komputer. Pembentukan instrumen biosensor
tentu saja berbeda dengan biosensor konvensional, seperti pada sensor diabetes.
Pada biosensor untuk uji genetis, yang ditautkan ke sistim elektronik bukanlah
enzim, namun DNA template yang ditemukan secara komputasi. Sistim biosensor ini
disebut juga sebagai DNA Biochips.
Dalam konteks ini, IT berperan
sangat kuat dalam pencetakan DNA Biochips. Jika dalam praktik IT sehari-hari,
kita menggunakan program pengolah kata, seperti Open Office atau Neo Office,
dan kemudian dokumen hasil pengolahan tersebut di print, maka pencetakan DNA
Biochips juga serupa. Ada aplikasi yang bertugas untuk mendesain model DNA
biochips secara komputasi, dan ada printer khusus untuk mencetak DNA biochips. Dokter akan menggunakan DNA
biochips secara langsung untuk mendeteksi kelainan genetis pada pasien. Sampel
darah diambil dari pasien secara langsung, dan ditorehkan pada DNA biochips.
Lalu chips tersebut akan dimasukkan kedalam scanner yang terhubung dengan
komputer, untuk mendeteksi kelainan genetis yang terjadi. Ada aplikasi yang
bertugas untuk membaca DNA biochips yang telah tertoreh sampel darah. Jika
conserve region dari DNA sampel sama dengan DNA template, maka bisa dipastikan
terjadi kelainan genetis. Prinsip sederhana DNA biochips adalah seperti itu.
Trend SI dan TI Dalam Bidang Media Atau New Media
1. Manfaat
media
Media adalah sebuah alat yang
mempunyai fungsi menyampaikan pesan (Bovee, 1997). Media pembelajaran
adalahsebuah alat yang berfungsi dan digunakan untuk menyampaikan pesan
pembelajaran. Pembelajaran adalah proses komunikasi antara pembelajar,
pengajar, dan bahan ajar. Banyak batasan atau pengertian yan dikemukakan para
ahli tentang media, diantaranya adalah: Asosiasi Teknologi dan Komunikasi
Pendidikan (Asosociation of Education and Communication Technology (AECT).
Manfaat media pembelajaran
sebagai alat bantu dalam proses pembelajaran adalah sebagai berikut:
-Pengajaran lebih menarik perhatian pembelajar sehingga dapat menumbuhkan motivasi belajar
-Bahan pengajaran akan lebih jelas maknanya, sehingga dapat lebih di pahami pembelajar, serta memungkinkan pembelajar menguasai tujuan pengajaran dengan baik
-Metode pembelajaran bervariasi, tidak semata-semata hanya komunikasi verbal melalui penuturan kata-kata lisan pengajar, pembelajar tidak bosan, dan pengajar tidak kehabisan tenaga.
-Pembelajar lebih banyak melakukan kegiatan belajar, sebab tidak hanya mendengarkan penjelasa dari pengajar saja, tetapi juga aktivitas lain yang dilakukan seperti mengamati, melakukan, mendemonstrasikan dan lain-lainya.
2. Tantangan New Media
“People are afraid of and resist
new media.”(Wartella & Reeves 1983). Kira-kira itulah yang dipikirkan
sebagian orang ketika mendengar new media. Di mana sebagian orang mungkin akan
takut akan keberadaan media baru sementara sisanya akan bertahan. New media
sendiri lahir dari istilah”konvergensi”. Konvergensi diartikan sebagai cara
menyajikan konten berita melalui platform media yang beragam dalam satu
kesatuan (usaha) maupun komando (cara kerja di News Room), menghadirkan konten
yang beragam kepada khalayak yang beragam pula sesuai minat dan media yang digunakan
(elektronik, online, mobile).
Maka tidak mengherankan jika saat
ini komputer dapat difungsikan sebagai pesawat televisi, atau telepon genggam
dapat menerima suara, tulisan, data maupun gambar tiga dimensi (3G). Dalam
dunia penyiaran, digitalisasi memungkinkan siaran televisi memiliki layanan
program seperti layaknya internet. Cukup dengan satu perangkat, seseorang sudah
dapat mengakses surat kabar, menikmati hiburan televisi, mendengar radio,
mencari informasi sesuai selera, dan bahkan menelpon sekalipun.Berkembangnya teknologi
komunikasi dan informasi (information and communication technology / ICT)
selama dekade terakhir membawa tren baru di dunia industri komunikasi yakni
hadirnya beragam media yang menggabungkan teknologi komunikasi baru dan teknologi
komunikasi massa tradisional. Pada dataran praktis maupun teoritis, fenomena
yang sering disebut sebagai konvergensi media ini memunculkan beberapa
konsekuensi penting. Di ranah praktis, konvergensi media bukan saja memperkaya
informasi yang disajikan, melainkan juga memberi pilihan kepada khalayak untuk
memilih informasi yang sesuai dengan selera mereka. Tidak kalah serius,
konvergensi media memberikan kesempatan baru yang radikal dalam penanganan,
penyediaan, distribusi dan pemrosesan seluruh bentuk informasi baik yang
bersifat visual, audio, data dan sebagainya.
Namun di sisi lain, perlu diakui
new media menjadi sesuatu yang mampu menarik perhatian masyarakat. Karena
masyarakat hanya tinggal mencari informasi yang diinginkan dengan bantuan
internet, seketika itu pula informasi muncul. Sisi positif yang diperoleh
khalayak memang bisa terlihat jelas, namun kekurangannya juga tidak kalah
mendebarkan, dalam media online kekurangan yang terlihat ialah wartawan juga
harus mengupayakan meng update berita-berita di lapangan dan memangkas tugas
editor yang berfungsi untuk menyaring berita-berita yang masuk. Keberadaan
konvergensi media menjadikan sebuah kompetisi baru muncul sehingga keakuratan
berita menjadi bias.
3. Elemen Media
Multimedia adalah media dan
konten yang menggunakan kombinasi dari bentuk konten yang berbeda. Istilah ini
dapat digunakan sebagai kata benda (media dengan beberapa bentuk) atau sebagai
kata sifat yang menggambarkan media yang memiliki beberapa bentuk konten.
Istilah ini digunakan dalam media yang berbeda dengan hanya menggunakan layar
komputer dasar seperti teks saja, atau bentuk-bentuk tradisional dari bahan
cetak. Intinya Pengertian Multimedia adalah kombinasi teks, audio, gambar diam,
animasi, video, atau bentuk interaktivitas konten. Teknologi multimedia mulai
diperkenalkan pada pertengahan tahun 80-an dan telah membuka dimensi baru dalam
Teknologi Informasi. Teknologi multimedia telah membawa satu perubahan drastis
pada industri media karena kemampuannya menyatukan kelebihan televisi sebagai
alat audio visual dan kekuatan teknologi mesin cetak dan kemampuan teknologi
interaktif komputer.
Terdapat 5 elemen multimedia
penting yang mendasar pada yaitu:
Teks – Merupakan elemen dasar untuk menyampaikan informasi. Memiliki berbagai jenis dan bentuk tulisan yang bisa memberi daya tarik dan penyampaian informasi. Memberi penekanan untuk sesuatu materi yang ingin disampaikan.
Grafis – Merupakan elemen paling penting, memberikan penekanan secara visual terhadap sesuatu presentasi maklumat.Membantu menyampaikan informasi dengan lebih berkesan.Menjadikan presentasi atau penyampaian informasi dengan lebih menarik.
Audio – Membantu menyampaikan informasi dengan lebih efektif (misalnya: penggunaan suara latar atau kesan audio khusus). Membantu meningkatkan daya tarik terhadap sesuatu tayangan.Membantu meningkatkan daya tarik terhadap isi yang di presentasikan.
Video – Menyediakan metode penyaluran informasi yang amat menarik dan hidup.Merupakan elemen atau media yang sangat dinamis dan efektif dalam menyampaikan informasi.
Animasi – Berperan sebagai penarik pada sebuah presentasi dan sangat membantu dalam menjelaskan suatu konsep yang kompleks dengan mudah.
Teknologi multimedia semakin dikenali kerana peranan pentingnya dalam bidang penyiaran, komunikasi, hiburan dan yang terbaru adalah penggunaan multimedia pada teknologi informasi dalam pendidikan.
4. Contoh Kasus SEO
Pengertian SEO (Search Engine
Optimization). Pada tahun 2000an seiring pesatnya perkembangan dunia maya
seperti hadirnya Search Engine, secara tidak langsung ilmu SEO juga dibutuhkan
di Indonesia, namun banyak orang belum tahu pasti apa itu SEO? Apa arti dari
SEO? Bagaimana sejarah awal SEO? Apa guna dari SEO? Apa manfaat dari SEO? Apa
itu Teknik SEO? semua dikarenakan pada tahun 2000 dunia maya masih belum
berkembang dan persaingan antara berbagai website masih rendah. Bermacam-macam cara atau teknik
SEO yang dapat dilakukan, dari Teknik Optimisasi OnPage atau Offpage, serta
analisa website lawan dan website yang akan di Optimisasikan. Pada kesempatan
selanjutnya saya akan posting mengenai Pengertian SEO On Page dan Off Page.
Teknik SEO bukan ilmu yang bisa kita dapatkan di jenjang pendidikan formal.
Teknik SEO harus dipelajari secara otodidak (dipraktekan) dan berkelanjutan
(update teknik terbaru), dan perubahan yang terjadi di profesi SEO sesuai
dengan aturan-aturan terbaru yang ditetapkan oleh Google (Google Panda
Algorithm, Google Penguin Algorithm, Google Hummingbird Algorithm, dll). Banyak
website yang memberikan informasi terbaru mengenai teknik terkini mengenai SEO.
Lebih disarankan bagi Junior SEO untuk mengikuti perkembangan SEO yang pasti
dari Blog Google atau dari Blog SEO ternama, dikarenakan Google melakukan minor
update algorithm sekitar 500 kali setahun dan 3-4 kali untuk major updates.
Perusahaan Perangkat Lunak: suatu
perusahaan bernama Welocalize.Com adalah perusahaan penyedia solusisistem
globalisasiyang mendapatkan kontribusi penjualan melalui strategi SEO sehinhha
mendapatkan klien dari perusahaan-perusahaan besar berbasi multinasional,
padahal banya memiliki tim penjualan yang terbatas, tapi didukung oleh strategi
pemasaran yang efektif. Selain itu, beberapa kontrak bisnisnya bernilai enam
angka dalam satuan Dollar Amerika.. Proyeknya berupa pengintegrasian
situs-situs web,intranet, dan ekstranet dem kemudahan pada staf, klien, dan
mitra bisnis di seluruh dunia.
Peruahaan Penyedia Solusi
Konferensi: karena purus asa dengan kampanye iklan banner-nya, sebuah
perusahaan memutuskan untuk merelokasikan seluruh anggaran pemasaran online-nya
dengan strategi SEP dengan menggunakan sebuah perusahaan yang memang pakar di
bidang SEO, yatu yang bernama Webster Group International. Alhasil,dari
strategi tersebut adalah peningkatan penjualan hinhha 500 persen dalam webtu 18
bual dan saat itu tidak ada strategi pemasaran lain yang digunakan. Strategi
SEO yang dilakukan perusahaan ini adalah meluncurkan banyak situs penjualan,
kemudian dioptimalisasi untuk situs pencari. Hal ini memang sangat bermanfaat,
mengapa? Jawabannya, karena beberapa direktori web hanya akan memasukkan
halaman utamanya saja. Dengan labih dari satu produk yang djual, kemudian
membuat banayk situs/web untuk masing-masing produk meruakan strategi yang
bagus untuk meningkatkan visibilitas di internet demi meningkatkan penjualan.
Perusahaan Eceran yang Menjual
Asesoris Kamera: Perusahaanyang bernama DCProDirect berhasil menaikkan
pendapatannya hingga 24 persen dalam waktu enam bulan melalui SEO, yaitu dengan
menggunakan pelayanan yang disebut Inceptor. "Suatu perusahaan teknologi
yang spesialisnya membantu perusahaan eceran untuk memasukkan ribuan dari Stock
Keeping Units-nya agar terdaftar di situs pencari," demikian kata
Marketing Sherpa. Tantangannya adalah bagaimana melakukan ekspansi pemasaran ke
dunia internet tanpa meningkatkan biaya untuk mengonversi prospek menjadi
customer. Selanjutnya, perusahaan ini membandingkan tiga strategi pemasaran
online, yaitu: iklan banner, direct mail dan SEO. Sebelum melakukan SEO, data
pada log file hanya akan menunjukkan 4
persen dari para pengunjung yang berasal dari situs pencari, lalu akhirnya
hanya memberikan kontribusi penjualan kurang dari 1 persen. Setelah itu, dalam
waktu enam bulan setelah melakukan SEO, meningkat 24 persen dari penjualan
online DCProDirect yang berasal dari para pengunjung yang datang dari situs
pencari. Berdasarkan perbandingan tida media promosi, yaitu iklan banner,
direct mail, dan SEO perusahaan tersebut mendapati bahwa SEO telah memberikan
rasio penjual yang lebih tinggi secara dramatis.